Kamis, 15 Oktober 2015

“PERTANIAN MASA DEPAN”


                Pertanian adalah soal hidup dan mati”, demikian pidato Presiden Republik Indonesia yang pertama (Ir. Soekarno) saat menancapkan batu di kampus institut pertanian bogor. Sangat jelas makna dari kalimat itu, darimana kita makan selain dari hasil pertanian?sebuah kalimat pertanyaan yang menentukan keberlangsungan bangsa Indonesia, mau hidup atau mati?


Asal Mula Pertanian
                Di dalam kepustakaan kuno terdapat cerita bahwa penemu kegiatan pertanian ialah Kaisar Cina Shen Nung. Ketika melihat rakyatnya yang makan daging sapi dan ayam, ia mencetuskan untuk membuat alat pengolah tanah dari sebilah kayu yang ditajamkan dan digunakan untuk mengolah tanah . Alat tersebut merupakan model bajak pertama kali dan itulah permulaan adanya pertanian.
Bertani sebagai Budaya
                Bagi masyarakat Indonesia, bertani bukan hanya sekedar soal membajak, mengolah tanah, dan menanam padi. Lebih dari itu, bertani sudah menjadi budaya bangsa dan memiliki nilai-nilai tersendiri sejak Indonesia belum merdeka. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, bertani juga sudah berkembang menjadi model perekonomian saat ini. Sejak dulu, nenek moyang kami sudah membuat seperangkat aturan adat untuk menjaga kelestarian alam demi keberlangsungan hidup manusia. Sebagai contoh adat istiadat ini terlihat dari cara mengatur pola tanam serta penggarapan lahan agar tidak merusak alam sekitarnya.
Realita Pertanian Indonesia
                Di saat sektor pertanian memiliki potensi yang besar, muncul kekurang tertarikan generasi muda terhadap sektor ini. Hal ini ditandai dengan menurunnya minat lulusan siswa sekolah menengah atas memilih fakultas pertanian. Berdasarkan analisis hasil SNMPTN 2010, terjadi kekosongan kursi di bidang pertanian hingga 50 persen dari daya tampung . Apakah ini bukan ancaman bagi masa depan sektor pertanian, bahkan bagi masa depan bangsa? Generasi muda di desa beramai-ramai meninggalkan desa. Anak petani lebih memilih bekerja di kota, dan menyebabkan kosongnya pertanian potensial . Sungguh ironis sekali, negara yang memiliki potensi besar dalam pertanian namun masih banyak masyarakatnya yang mengalami kasus busung lapar dan kemiskinan.
                Hal tersebut dikarenakan, banyaknya pandangan bahwa pertanian adalah pekerjaan yang tidak memiliki prospek cerah untuk menjamin masa depan. Orang tua mengajarkan anak-anak nya agar menjadi dokter, pilot, dan bidang kerja lain selain pertanian. Karena bagi mereka menjadi sarjana pertanian sama dengan memilih mendapat status kemiskinan dan pengangguran. Selain itu, pengembangan sektor pertanian oleh pemerintah kurang diminati . Pemerintah lebih memilih sektor industri yang dianggap lebih cepat menambah pertumbuhan ekonomi. Padahal, jika sektor pertanian berkembang dan didukung penuh pemerintah, sektor pertanian akan mendukung sektor-sektor yang lainnya.

Potensi Pertanian Indonesia
                Berlawanan dengan hal diatas, sektor pertanian merupakan sektor yang berperan penting dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Sebagai negara agraris dan maritim karena kekayaan alamnya, potensi Indonesia sangat besar di bidang pertanian. Hal ini dapat dilihat dari ketersediaan lahan, kesesuaian iklim, tenaga kerja yang melimpah, dan kekayaan hayati yang beragam. Indonesia juga menjadi salah satu pemasok komoditas kelapa sawit, kakao, teh, kopi, karet alam, dan rempah - rempah. Sayangnya potensi itu kini tidak lagi optimal untuk dikembangkan, karena minimnya generasi muda yang etrtarik pada sektor pertanian.
                Mengapa harus generasi muda?Kita meyakini bahwa bumi ini diciptakan bukan untuk satu zaman saja. Ketika sebuah generasi menginjak usia senja maka generasi baru akan muncul untuk menggantinya. Sebuah ungkapan para filosofi juga seringkali mengingatkan kita bahwa “bumi dan alam semesta ini bukanlah warisan dari para leluhur kita melainkan titipan bagi anak cucu (generasi penerus) kita”. Maksudnya adalah bahwa generasi muda dan juga generasi penerus kita nantinya juga memiliki hak untuk merasakan tanah yang subur, udara yang segar, air yang jernih dan kewajiban mengelolanya dengan baik sebagai rasa syukur kita akan nikmat Tuhan .
                Inilah bentuk perjuangan, kita tidak bisa bergantung pada para orang tua dulu apalagi kepada orang lain. Memang terasa sangat sulit. tetapi kita harus mengambil inisiatif untuk memulainya. Kalau tidak dimulai dari sekarang, lalu kapan lagi ?mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil. Jadi, mulai hari ini jadilah Pemuda-Pemudi yang Bangga Jadi Petani Generasi Baru

 Jenis-jenis Pertanian
Berdasarkan pengelolaanya, pertanian dibedakan menjadi dua, yaitu:
                ®     Pertanian rakyat adalah pertanian yang diusahakan oleh rakyat. Pertanian ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik konsumsi sendiri maupun konsumsi lokal. Ciri-ciri: modal kecil, lahan sempit, dikelola sederhana, tenaga kerja sederhana, tenaga kerja keluarga sendiri, peralatan sendiri.
                ®    Pertanian besar adalah pertanian yang diusahakan oleh perusahaan, baik swasta maupun BUMN. Pertanian ini bertujuan untuk keperluan ekspor atau bahan baku industri. Ciri-ciri: modal usaha besar, lahan luas, dikelola secara modern.
Berdasarkan jenis tanamannya pertanian dibedakan menjadi dua yaitu:
                »  Pertanian tanaman pangan
Adalah usaha pertanian yang berupa bahan pangan. Tanaman pangan dibedakan menjadi tiga yaitu, jenis padi-padian, jenis palawija (ketela pohon, ketela rambat, umbi-umbian, kacang tanah dll) dan jenis holtikultura (buah dan sayuran)
                »  Pertanian tanaman perkebunan

Adalah usaha pertanian yang bertujuan memenuhi kebutuhan dan perdagangan besar. Tanaman perkebunan dapat dibedakan menjadi tanaman perkebunan musiman (tebu,tembakau,dll) dan tanaman perkebunan tahunan (kopi,karet, coklast,dll)
Jenis-jenis sawah meliputi
1) Sawah irigasi, yaitu sawah yang menggunakan perairan secara teratur
2) Sawah tadah hujan, aytiu sawah yang menggunakan perairan dengan air huajan
3) Sawah lebak, yaitu sawah yang diusahakan di bantaran sungai besar saat penghujan
4) Sawah bancah, yaitu sawah yang diusahakan di daerah pantai dekat muara sungai. Sawah ini juga dinamakan sawah pasang surut
 Berdasarkan lahannya pertanian dibedakan menjadi empat, yaitu:
Þ    Bersawah adalah usaha bercocok tanam yang dilakukan di sawah dengan jenis tanaman
Þ    Berladang adalah usaha bercocok di lahan kering, pada saat musim hujan dan dilakukan dengan cara berpindah-pindah
Þ    Bertegal, adalah usaha bercocok tanam di lahan kering dengan memanfaatkan air hujan. Hasilnya jagung, kacang, ketela dll
Þ    Berkebun, adalah usaha bercocok tanam yang dilakukan di sekitar rumah (pekarangan)

Berdasarkan strategi prioritas pembangunan pertanian diatas maka dapat dirinci sebagai berikut :
1. Strategi Pengembangan Sumber Daya Alam
     1   Pemanfaatan Sumber Daya Alam yang berwawasan lingkungan.
        Sasaran pemanfaatan lahan Tahun 2005 – 2010 adalah :
          Peningkatan Produktivitas/Produksi komoditas unggulan dan spesifik lokasi yang berwawasan lingkungan dan berorientasi Agribisnis.
            Pengembangan lahan kering dan konservasi yang belum dimanfaatkan untuk komoditas pertanian cukup besar. Sasaran pengembangan adalah perluasan areal komoditas unggulan dan spesifikasi lokal sesuai dengan kemampuan dan kesesuaian lahan.
        2 Pengembangan Kawasan Sentra Produksi.
        Pengembangan lahan diharapkan akan terjadi kawasan sentra produksi komoditas pertanian dengan memperhatikan aspek-aspek agribisnis yang selanjutnya akan diharapkan adanya Kawasan Sentra Agribisnis.

 2.  Strategi Pengembangan Sumber Daya Buatan Manusia.
        A. Peningkatan Pengelolaan Administrasi dan Manajemen pembangunan pertanian
        Sasaran Pengembangan adalah meningkatnya kapasitas sarana kerja dan bangunan kantor tahun 2005-2010 untuk menunjang kegiatan pelaksanaan tugas aparatur dlam meningkatkan pelayanan masyarakat.
        B. Peningkatan infrastruktur pertanian.
                Peningkatan infrastruktur air irigasi dan jalan usaha tani dalam rangka memperbaiki sistem usaha tani sehingga mampu memberikan hasil produksi yang optimal dalam meningkatkan pendapatan petani.
        C. Peningkatan Penyediaan Sarana Pertanian.
        D. Peningkatan Penyediaan Sarana Produksi.
                Untuk mengoptimalkan penggunaan lahan pertanian diperlukan adanya ketersediaan sarana produksi seperti penyediaan benih, pupuk dan pestisida yang memenuhi kriteria 6 tepat yaitu : tepat jenis, tepat mutu, tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu dan tepat tempat.
   3.  Peningkatan Penyediaan Alat dan Mesin Pertanian.
    Ketersediaan alat dan mesin pertanian bertujuan untuk memperpendek masa olah tanah sehinga terjadi peningkatan Intensitas Pertanaman, meningkatkan pendayagunaan air permukaan dan air tanah, meningkatkan penanganan pasca panen.
  Mengembangkan Agroindustri Pengolahan Hasil.
     1. Pengembangan unit mesin penggilingan padi di Kabupaten Sumbawa bertujuan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, memberi peluang kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal.
     2. Pengembangan Unit Pengolahan Hasil Lainnya.
 Sasaran ditujukan kepada kelompok wanita tani dalam membangun industri rumah tangga (Home industri) dengan penyediaan alat.
 4.   Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia.
      a  Meningkatkan Kwantitas Aparatur.
      B Meningkatkan Kualitas Aparatur.
            Penerimaan pegawai baru dengan tingkat pendidikan sarjana pertanian dari segala disiplin ilmu.
            Memberi kesempatan belajar dari Aparatur yang sudah ada.
            Memberikan kesempatan mengikuti kursus dan pelatihan teknis bagi aparatur pertanian.
      C. Meningkatkan Kualitas Masyarakat Tani.
        Strategi yang ditempuh untuk menjadikan petani yang berkualitas adalah :
            Melakukan kursus dan pelatihan bagi petani sesuai bidang usaha taninya.
            Magang dan Study Banding.

   5.  Strategi Pengembangan Sumber Daya Sosial Kelembagaan.
       A. Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Kelembagaan Pertanian.
          1.  Meningkatkan fungsi kelembagaan Pertanian (KCD, BBU, UPTD lainnya) sebagai pusat informasi masyarakat dalam penyiapan sarana perbenihan dan Paket Teknologi Pertanian.
            2. Meningkatkan kemampuan aparat pengelola kelembagaan Pertanian.
       B. Meningkatkan Pemberdayaan Kelembagaan Petani.
           1. Pembinaan dan pengembangan kelompok P3A, Kel. Tani, KTNA, KWT dan UPJA.
            2. Revitalisasi kelompok tani untuk dikembangkan menjadi kelompok Agribisnis yang mandiri.
       C.  Menumbuhkan kelembagaan Agribisnis dan Agroindustri yang bertumpu pada pasar.
           1 Kelompok kawasan sentra Agribisnis.
            2Kelompok usaha pengolahan hasil.

HAMBATAN DALAM APLIKASI TIK
                Meskipun disadari TIK memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan, namun sampai saat ini petani di dunia, khususnya di Indonesia masih belum dipertimbangkan dalam bisnis TIK dan lingkungan kebijakan.  Fakta yang agak mengejutkan adalah bahwa aplikasi TIK memiliki  kontribusi yang tidak terukur secara ekonomi bagi  masing-masing GDPs. Dalam waktu yang sama, pemanfaatan TIK dalam pembangunan pertanian berkelanjutan membutuhkan proses pendidikan dan peningkatan kapasitas karena masih terdapat kesenjangan secara teknis maupun keterampilan dalam bisnis secara elektronik (e-business). 
                Survei yang dilakukan oleh the International Society for Horticultural Sciences (ISHS) telah mengidentifikasi hambatan-hambatan dalam mengadopsi TIK oleh petani khususnya petani hortikultura, yaitu: keterbatasan kemampuan; kesenjangan dalam pelatihan (training), kesadaran akan manfaat TIK, waktu, biaya dari teknologi yang digunakan, integrasi sistem dan ketersediaan software. Partisipan dari negara-negara maju menekankan pada hambatan: tidak adanya manfaat ekonomi yang dapat dirasakan, tidak memahami nilai lebih dari TIK, tidak cukup memiliki waktu untuk menggunakan teknologi dan tidak mengetahui bagaimana mengambil manfaat dari penggunaan TIK. Responden dari negara-negara berkembang menekankan pentingnya “biaya teknologi TIK” dan “kesenjangan infrastruktur teknologi.” Hasil kuesioner dari  the Institute for Agricultural and Fisheries Research  sejalan dengan survei  ISHS dan survey dari the European Federation for Information Technology in Agriculture (EFITA) yang mengindikasikan adanya suatu pergeseran dari  kecakapan secara teknis TIK sebagai suatu faktor pembatas menuju pada kesenjangan pemahaman bagaimana mengambil manfaat dari pilihan TIK yang bervariasi (Taragola et al. 2009).
                TIK memiliki peranan yang sangat penting dalam pertanian modern dan menjaga keberlanjutan pertanian dan ketahanan pangan.  Namun demikian, untuk wilayah negara-negara berkembang masih banyak mengalami kendala dalam aplikasinya untuk mendukung pengembangan pertanian berkelanjutan.  Tantangan yang umum dihadapi adalah bahwa akses telepon dan jaringan elektronik di perdesaan dan wilayah terpencil (remote area) sangat terbatas; telecenter yang menawarkan layanan TIK masih langka karena biaya yang diperlukan akibat tingginya investasi dan biaya operasional yang dibutuhkan. Kekurangan pada tingkatan lokal dalam aplikasi TIK perlu dipikirkan dalam merancang strategi aplikasi TIK sesuai dengan kondisi di lapangan yang spesifik lokasi baik melalui kapasitas teknologi  tradisional, seperti siaran radio. emerintah dan masyarakat perdesaan dapat bekerja bersama untuk melayani pengguna atas dasar profitabilitas di samping ada unsur sosial untuk mendukung keberlanjutan aplikasi TIK di tingkat perdesaan.
                Berdasarkan Survei yang dilakukan oleh the International Society for Horticultural Sciences (ISHS) hambatan-hambatan dalam mengadopsi TIK oleh petani khususnya petani hortikultura, yaitu: keterbatasan kemampuan; kesenjangan dalam pelatihan (training), kesadaran akan manfaat TIK, waktu, biaya dari teknologi yang digunakan, integrasi sistem dan ketersediaan software.    Untuk responden dari negara-negara berkembang menekankan pentingnya “biaya teknologi TIK” dan “kesenjangan infrastruktur teknologi (Taragola et al. 2009).
Beberapa hambatan dalam aplikasi TIK untuk mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan yang berhasil diidentifikasi oleh Sumardjo et al. (2009) secara ringkas adalah sebagai berikut:
                1.    Belum adanya komitmen dari manajemen di level stakeholders managerial  yang ditunjukkan dengan adanya kebijakan yang belum konsisten. 
                2.    Kemampuan tingkat manajerial pimpinan di level stakeholders (khususnya di lingkup pemda dan dinas kabupaten) sebagian besar masih belum memiliki kapasitas di bidang teknologi informasi, sehingga banyak sekali proses pengolahan input yang seharusnya dapat difasilitasi dengan aplikasi teknologi informasi tidak diperhatikan dan bahkan cenderung dihindari penerapannya.
                3.    Sebagian besar level manajerial belum mengetahui secara persis konsep aplikasi teknologi informasi, sehingga berimplikasi pada rendahnya aplikasi teknologi informasi untuk mendukung operasionalisasi pelaksanaan tugas sehari-hari.
                4.    Infrastruktur penunjang tidak mendukung operasi pengelolaan dan penyebaran informasi pertanian yang berbasis teknologi informasi, seperti misalnya pasokan listrik yang masih kurang memadai, perlengkapan hardware tidak tersedia  secara mencukupi baik kualitas maupun kuantitasnya, gedung atau ruangan yang tidak memadai, serta jaringan koneksi internet yang masih sangat terbatas (khususnya untuk wilayah remote area).
                5.    Biaya untuk operasional aplikasi teknologi informasi untuk akses dan pengelolaan informasi yang disediakan oleh pemerintah daerah khususnya sangat tidak memadai terutama untuk biaya langganan ISP untuk pengelolaan informasi yang berbasis internet.
                6.    Infrastruktur telekomunikasi yang belum memadai dan mahal. Kalaupun semua fasilitas ada, harganya masih relatif mahal.
                7.    Tempat akses informasi melalui aplikasi teknologi informasi sangat terbatas.  Di beberapa tempat di luar negeri, pemerintah dan masyarakat bergotong-royong untuk menciptakan access point yang terjangkau, misalnya di perpustakaan umum (public library). Di Indonesia hal ini seharusnya dapat dilakukan di kantor pos, kantor pemerintahan dan tempat-tempat umum lainnya. 
                8.    Sebagian usia produktif dan yang bekerja di lembaga subsistem jaringan informasi inovasi pertanian tidak berbasis teknologi informasi, sehingga semua pekerjaan jalan seperti biasanya dan tidak pernah memikirkan efisiensi atau pemanfaatan teknologi informasi yang konsisten.
                9.    Dunia teknologi informasi terlalu cepat berubah dan berkembang, sementara sebagian besar sumber daya manusia yang ada di lembaga subsistem jaringan informasi inoasi pertanian cenderung kurang memiliki motivasi untuk terus belajar mengejar kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga seringkali kapasitas SDM yang ada tidak dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan cenderung menjadi lambat dalam menyelesaikan tugas.
                10.  Kemampuan kapasitas SDM dalam aplikasi teknologi informasi dan komunikasi, khususnya di level penyuluh pertanian ataupun fasilitator tingkat desa sebagai motor pendamping pelaksana pembangunan pertanian di daerah masih sangat terbatas.   
                11.  Keterbatasan kemampuan dan pengetahuan petani atau pengguna akhir dalam pemanfaatan teknologi informasi dalam akses informasi inovasi pertanian dan mempromosikan produknya ke pasar yang lebih luas.
                12.  Dari segi sosial budaya, kultur berbagi masih belum membudaya. Kultur berbagi (sharing) informasi dan pengetahuan untuk mempermudah akses dan pengelolaan informasi belum banyak diterapkan oleh anggota lembaga stakeholders.  Di samping itu, kultur mendokumentasikan informasi/data juga belum lazim, khususnya untuk kelembagaan yang berada di daerah.
"mewujudkan sistem penyuluhan pertanian yang andal dalam rangka mendukung peningkatan daya saing dan nilai tambah agribisnis"

         
Peranan strategis sektor pertanian bagi pertumbuhan ekonomi antara lain ditunjukan oleh kedudukan sektor pertanian sebagai kontributor penting dalam pembentukan produk domestic bruto, penyediaan dan peningkatan devisa Negara melalui ekspor hasil pertanian serta penyediaan bahan baku industri.
                Untuk mewujudkan sumberdaya manusia pertanian yang profesional, inovatif, kreatif dan berwawasan global, Badan SDM Pertanian telah merumuskan Rencana Strategis Badan Pengembangan SDM Pertanian 2010 – 2014 ( Renstra BPSDMP 2010 - 2014 ). Salah satu tujuan Renstra BPSDMP 2010 – 2014 adalah “mewujudkan sistem penyuluhan pertanian yang andal dalam rangka mendukung peningkatan daya saing dan nilai tambah agribisnis“.
                Sejalan dengan kebijakan pemerintah tersebut Kementerian Pertanian telah menetapkan program utama pembangunan pertanian dalam mencapai “ Empat Sukses Pembangunan Pertanian” yaitu
1) Pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan,
2) Peningkatan diversifikasi pangan,
3) peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor, dan
4) peningkatan kesejahteraan petani.

Kegiataan penyuluhan pertanian, pelatihan pertanian, juga ditujukan untuk:
1) memperkuat kelembagaan petani,
2) memberdayakan usaha petani, dan
3) mewujudkan pelaku utama pembangunan pertanian yang mandiri, berjiwa wirausaha, berdaya saing, dan berwawasan global. Hal ini dimaksudkan agar pelaku utama pembangunan pertanian mampu berdaya saing di pasar regional maupun global.
Beberapa permasalahan yang menjadi kendala dalam pengembangan sumber daya manusia pertanian terutama dalam aspek pelatihan dan penyuluhan di kabupaten sampang diantaranya adalah :
a) Pola pikir dan perilaku petani masih berorientasi pada aspek produksi sehingga kualitas dan harga yang diterima petani masih relative rendah,
b) Rendahnya kemandirian petani dan lemahnya akses petani terhadap modal, teknologi, sarana produksi dan informasi pasar,
c) Jumlah dan kompetensi penyuluh yang belum memadai untuk dapat mendukung empat sukses pembangunan pertanian, maupun untuk mengantisipasi perubahan iklim dan menjaga kelestarian lingkungan hidup,
d) Programa penyuluhan yang disusun bersama instansi terkait dan pelaku utama belum sepenuhnya
    dilaksanakan di lapangan,
e) Dukungan dana yang terbatas menyebabkan belum optimalnya pelaksanaan kaji terap dan diseminasi
    teknologi pleh penyuluh pertanian di lapangan.
Untuk mengatasi permasalahan sekaligus meningkatkan peran penyuluhan petanian dalam pembangunan pertanian, kedepannya perlu adanya sinergitas dan penyamaan persepsi terhadapa kegiatan – kegiatan penyuluhan di daerah dengan progama penyuluhan pusat, sesuai dengan peran pemerintah sebagai regulator, koordinator, dan supervisor





https://aristyakristina.wordpress.com/tag/pertanian/

http://distan.sumbawakab.go.id/isi.php?id=4

http://asharameta.blogspot.co.id/

http://bpkbinuang.blogspot.co.id/2014/05/mewujudkan-sistem-penyuluhan-pertanian.html




Tidak ada komentar:

Posting Komentar