Pertanian
adalah soal hidup dan mati”, demikian pidato Presiden Republik Indonesia yang
pertama (Ir. Soekarno) saat menancapkan batu di kampus institut pertanian
bogor. Sangat jelas makna dari kalimat itu, darimana kita makan selain dari
hasil pertanian?sebuah kalimat pertanyaan yang menentukan keberlangsungan
bangsa Indonesia, mau hidup atau mati?Asal Mula Pertanian
Di dalam kepustakaan kuno
terdapat cerita bahwa penemu kegiatan pertanian ialah Kaisar Cina Shen Nung.
Ketika melihat rakyatnya yang makan daging sapi dan ayam, ia mencetuskan untuk
membuat alat pengolah tanah dari sebilah kayu yang ditajamkan dan digunakan
untuk mengolah tanah . Alat tersebut merupakan model bajak pertama kali dan
itulah permulaan adanya pertanian.
Bertani
sebagai Budaya
Bagi masyarakat Indonesia,
bertani bukan hanya sekedar soal membajak, mengolah tanah, dan menanam padi.
Lebih dari itu, bertani sudah menjadi budaya bangsa dan memiliki nilai-nilai
tersendiri sejak Indonesia belum merdeka. Selain untuk memenuhi kebutuhan
hidup, bertani juga sudah berkembang menjadi model perekonomian saat ini. Sejak
dulu, nenek moyang kami sudah membuat seperangkat aturan adat untuk menjaga
kelestarian alam demi keberlangsungan hidup manusia. Sebagai contoh adat
istiadat ini terlihat dari cara mengatur pola tanam serta penggarapan lahan
agar tidak merusak alam sekitarnya.
Realita
Pertanian Indonesia
Di saat sektor pertanian memiliki
potensi yang besar, muncul kekurang tertarikan generasi muda terhadap sektor
ini. Hal ini ditandai dengan menurunnya minat lulusan siswa sekolah menengah
atas memilih fakultas pertanian. Berdasarkan analisis hasil SNMPTN 2010,
terjadi kekosongan kursi di bidang pertanian hingga 50 persen dari daya tampung
. Apakah ini bukan ancaman bagi masa depan sektor pertanian, bahkan bagi masa
depan bangsa? Generasi muda di desa beramai-ramai meninggalkan desa. Anak
petani lebih memilih bekerja di kota, dan menyebabkan kosongnya pertanian
potensial . Sungguh ironis sekali, negara yang memiliki potensi besar dalam
pertanian namun masih banyak masyarakatnya yang mengalami kasus busung lapar
dan kemiskinan.
Hal tersebut dikarenakan,
banyaknya pandangan bahwa pertanian adalah pekerjaan yang tidak memiliki
prospek cerah untuk menjamin masa depan. Orang tua mengajarkan anak-anak nya
agar menjadi dokter, pilot, dan bidang kerja lain selain pertanian. Karena bagi
mereka menjadi sarjana pertanian sama dengan memilih mendapat status kemiskinan
dan pengangguran. Selain itu, pengembangan sektor pertanian oleh pemerintah
kurang diminati . Pemerintah lebih memilih sektor industri yang dianggap lebih
cepat menambah pertumbuhan ekonomi. Padahal, jika sektor pertanian berkembang
dan didukung penuh pemerintah, sektor pertanian akan mendukung sektor-sektor
yang lainnya.
Potensi Pertanian Indonesia
Berlawanan dengan hal diatas,
sektor pertanian merupakan sektor yang berperan penting dalam pembangunan
ekonomi di Indonesia. Sebagai negara agraris dan maritim karena kekayaan
alamnya, potensi Indonesia sangat besar di bidang pertanian. Hal ini dapat
dilihat dari ketersediaan lahan, kesesuaian iklim, tenaga kerja yang melimpah,
dan kekayaan hayati yang beragam. Indonesia juga menjadi salah satu pemasok
komoditas kelapa sawit, kakao, teh, kopi, karet alam, dan rempah - rempah.
Sayangnya potensi itu kini tidak lagi optimal untuk dikembangkan, karena
minimnya generasi muda yang etrtarik pada sektor pertanian.
Mengapa harus generasi muda?Kita
meyakini bahwa bumi ini diciptakan bukan untuk satu zaman saja. Ketika sebuah generasi
menginjak usia senja maka generasi baru akan muncul untuk menggantinya. Sebuah
ungkapan para filosofi juga seringkali mengingatkan kita bahwa “bumi dan alam
semesta ini bukanlah warisan dari para leluhur kita melainkan titipan bagi anak
cucu (generasi penerus) kita”. Maksudnya adalah bahwa generasi muda dan juga
generasi penerus kita nantinya juga memiliki hak untuk merasakan tanah yang
subur, udara yang segar, air yang jernih dan kewajiban mengelolanya dengan baik
sebagai rasa syukur kita akan nikmat Tuhan .
Inilah bentuk perjuangan, kita
tidak bisa bergantung pada para orang tua dulu apalagi kepada orang lain.
Memang terasa sangat sulit. tetapi kita harus mengambil inisiatif untuk
memulainya. Kalau tidak dimulai dari sekarang, lalu kapan lagi ?mulai dari
sekarang, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil. Jadi, mulai hari
ini jadilah Pemuda-Pemudi yang Bangga Jadi Petani Generasi Baru
Jenis-jenis Pertanian
Jenis-jenis Pertanian
Berdasarkan pengelolaanya, pertanian dibedakan menjadi dua,
yaitu:
® Pertanian rakyat adalah pertanian yang
diusahakan oleh rakyat. Pertanian ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari, baik konsumsi sendiri maupun konsumsi lokal. Ciri-ciri: modal
kecil, lahan sempit, dikelola sederhana, tenaga kerja sederhana, tenaga kerja
keluarga sendiri, peralatan sendiri.
® Pertanian besar adalah pertanian yang
diusahakan oleh perusahaan, baik swasta maupun BUMN. Pertanian ini bertujuan
untuk keperluan ekspor atau bahan baku industri. Ciri-ciri: modal usaha besar,
lahan luas, dikelola secara modern.
Berdasarkan jenis tanamannya pertanian dibedakan menjadi dua
yaitu:
» Pertanian tanaman pangan
» Pertanian tanaman pangan
Adalah usaha pertanian yang berupa bahan pangan. Tanaman
pangan dibedakan menjadi tiga yaitu, jenis padi-padian, jenis palawija (ketela pohon,
ketela rambat, umbi-umbian, kacang tanah dll) dan jenis holtikultura (buah dan
sayuran)
»
Pertanian tanaman perkebunan
Adalah usaha pertanian yang bertujuan memenuhi kebutuhan dan
perdagangan besar. Tanaman perkebunan dapat dibedakan menjadi tanaman
perkebunan musiman (tebu,tembakau,dll) dan tanaman perkebunan tahunan
(kopi,karet, coklast,dll)
Jenis-jenis sawah meliputi
1) Sawah irigasi, yaitu sawah yang menggunakan perairan
secara teratur
2) Sawah tadah hujan, aytiu sawah yang menggunakan perairan
dengan air huajan
3) Sawah lebak, yaitu sawah yang diusahakan di bantaran
sungai besar saat penghujan
4) Sawah bancah, yaitu sawah yang diusahakan di daerah
pantai dekat muara sungai. Sawah ini juga dinamakan sawah pasang surut
Berdasarkan
lahannya pertanian dibedakan menjadi empat, yaitu:
Þ Bersawah adalah
usaha bercocok tanam yang dilakukan di sawah dengan jenis tanaman
Þ Berladang adalah
usaha bercocok di lahan kering, pada saat musim hujan dan dilakukan dengan cara
berpindah-pindah
Þ Bertegal, adalah
usaha bercocok tanam di lahan kering dengan memanfaatkan air hujan. Hasilnya
jagung, kacang, ketela dll
Þ Berkebun, adalah
usaha bercocok tanam yang dilakukan di sekitar rumah (pekarangan)
Berdasarkan strategi prioritas pembangunan pertanian diatas maka dapat dirinci sebagai berikut :
Berdasarkan strategi prioritas pembangunan pertanian diatas maka dapat dirinci sebagai berikut :
1.
Strategi Pengembangan Sumber Daya Alam
1 Pemanfaatan Sumber Daya Alam yang berwawasan
lingkungan.
Sasaran
pemanfaatan lahan Tahun 2005 – 2010 adalah :
Peningkatan
Produktivitas/Produksi komoditas unggulan dan spesifik lokasi yang berwawasan
lingkungan dan berorientasi Agribisnis.
Pengembangan lahan kering dan konservasi yang belum dimanfaatkan untuk
komoditas pertanian cukup besar. Sasaran pengembangan adalah perluasan areal
komoditas unggulan dan spesifikasi lokal sesuai dengan kemampuan dan kesesuaian
lahan.
2 Pengembangan
Kawasan Sentra Produksi.
Pengembangan
lahan diharapkan akan terjadi kawasan sentra produksi komoditas pertanian
dengan memperhatikan aspek-aspek agribisnis yang selanjutnya akan diharapkan
adanya Kawasan Sentra Agribisnis.
2. Strategi Pengembangan Sumber Daya Buatan
Manusia.
A. Peningkatan
Pengelolaan Administrasi dan Manajemen pembangunan pertanian
Sasaran
Pengembangan adalah meningkatnya kapasitas sarana kerja dan bangunan kantor
tahun 2005-2010 untuk menunjang kegiatan pelaksanaan tugas aparatur dlam
meningkatkan pelayanan masyarakat.
B. Peningkatan infrastruktur pertanian.
Peningkatan infrastruktur air irigasi dan jalan usaha tani dalam rangka memperbaiki sistem usaha tani sehingga mampu memberikan hasil produksi yang optimal dalam meningkatkan pendapatan petani.
Peningkatan infrastruktur air irigasi dan jalan usaha tani dalam rangka memperbaiki sistem usaha tani sehingga mampu memberikan hasil produksi yang optimal dalam meningkatkan pendapatan petani.
C. Peningkatan
Penyediaan Sarana Pertanian.
D. Peningkatan
Penyediaan Sarana Produksi.
Untuk mengoptimalkan penggunaan lahan pertanian diperlukan adanya ketersediaan sarana produksi seperti penyediaan benih, pupuk dan pestisida yang memenuhi kriteria 6 tepat yaitu : tepat jenis, tepat mutu, tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu dan tepat tempat.
Untuk mengoptimalkan penggunaan lahan pertanian diperlukan adanya ketersediaan sarana produksi seperti penyediaan benih, pupuk dan pestisida yang memenuhi kriteria 6 tepat yaitu : tepat jenis, tepat mutu, tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu dan tepat tempat.
3. Peningkatan Penyediaan Alat dan Mesin
Pertanian.
Ketersediaan alat
dan mesin pertanian bertujuan untuk memperpendek masa olah tanah sehinga
terjadi peningkatan Intensitas Pertanaman, meningkatkan pendayagunaan air
permukaan dan air tanah, meningkatkan penanganan pasca panen.
Mengembangkan Agroindustri Pengolahan Hasil.
Mengembangkan Agroindustri Pengolahan Hasil.
1. Pengembangan
unit mesin penggilingan padi di Kabupaten Sumbawa bertujuan meningkatkan nilai
tambah hasil pertanian, memberi peluang kesempatan kerja bagi tenaga kerja
lokal.
2. Pengembangan Unit Pengolahan Hasil Lainnya.
Sasaran ditujukan kepada kelompok wanita tani dalam membangun industri rumah tangga (Home industri) dengan penyediaan alat.
2. Pengembangan Unit Pengolahan Hasil Lainnya.
Sasaran ditujukan kepada kelompok wanita tani dalam membangun industri rumah tangga (Home industri) dengan penyediaan alat.
4.
Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia.
a Meningkatkan Kwantitas Aparatur.
B Meningkatkan Kualitas Aparatur.
Penerimaan
pegawai baru dengan tingkat pendidikan sarjana pertanian dari segala disiplin
ilmu.
Memberi
kesempatan belajar dari Aparatur yang sudah ada.
Memberikan kesempatan mengikuti kursus dan
pelatihan teknis bagi aparatur pertanian.
C. Meningkatkan Kualitas Masyarakat Tani.
C. Meningkatkan Kualitas Masyarakat Tani.
Strategi yang
ditempuh untuk menjadikan petani yang berkualitas adalah :
Melakukan
kursus dan pelatihan bagi petani sesuai bidang usaha taninya.
Magang dan
Study Banding.
5. Strategi Pengembangan Sumber Daya Sosial
Kelembagaan.
A. Meningkatkan
Kualitas dan Kuantitas Kelembagaan Pertanian.
1. Meningkatkan fungsi kelembagaan Pertanian
(KCD, BBU, UPTD lainnya) sebagai pusat informasi masyarakat dalam penyiapan
sarana perbenihan dan Paket Teknologi Pertanian.
2. Meningkatkan
kemampuan aparat pengelola kelembagaan Pertanian.
B. Meningkatkan
Pemberdayaan Kelembagaan Petani.
1.
Pembinaan dan pengembangan kelompok P3A, Kel. Tani, KTNA, KWT dan UPJA.
2. Revitalisasi
kelompok tani untuk dikembangkan menjadi kelompok Agribisnis yang mandiri.
C. Menumbuhkan kelembagaan Agribisnis dan
Agroindustri yang bertumpu pada pasar.
1 Kelompok
kawasan sentra Agribisnis.
2Kelompok
usaha pengolahan hasil.
HAMBATAN DALAM APLIKASI TIK
HAMBATAN DALAM APLIKASI TIK
Meskipun disadari TIK memiliki
peranan yang sangat penting dalam mendukung pembangunan pertanian
berkelanjutan, namun sampai saat ini petani di dunia, khususnya di Indonesia
masih belum dipertimbangkan dalam bisnis TIK dan lingkungan kebijakan. Fakta yang agak mengejutkan adalah bahwa
aplikasi TIK memiliki kontribusi yang
tidak terukur secara ekonomi bagi
masing-masing GDPs. Dalam waktu yang sama, pemanfaatan TIK dalam
pembangunan pertanian berkelanjutan membutuhkan proses pendidikan dan
peningkatan kapasitas karena masih terdapat kesenjangan secara teknis maupun
keterampilan dalam bisnis secara elektronik (e-business).
Survei yang dilakukan oleh the
International Society for Horticultural Sciences (ISHS) telah mengidentifikasi
hambatan-hambatan dalam mengadopsi TIK oleh petani khususnya petani
hortikultura, yaitu: keterbatasan kemampuan; kesenjangan dalam pelatihan
(training), kesadaran akan manfaat TIK, waktu, biaya dari teknologi yang
digunakan, integrasi sistem dan ketersediaan software. Partisipan dari
negara-negara maju menekankan pada hambatan: tidak adanya manfaat ekonomi yang
dapat dirasakan, tidak memahami nilai lebih dari TIK, tidak cukup memiliki
waktu untuk menggunakan teknologi dan tidak mengetahui bagaimana mengambil
manfaat dari penggunaan TIK. Responden dari negara-negara berkembang menekankan
pentingnya “biaya teknologi TIK” dan “kesenjangan infrastruktur teknologi.”
Hasil kuesioner dari the Institute for
Agricultural and Fisheries Research
sejalan dengan survei ISHS dan
survey dari the European Federation for Information Technology in Agriculture
(EFITA) yang mengindikasikan adanya suatu pergeseran dari kecakapan secara teknis TIK sebagai suatu
faktor pembatas menuju pada kesenjangan pemahaman bagaimana mengambil manfaat
dari pilihan TIK yang bervariasi (Taragola et al. 2009).
TIK memiliki peranan yang sangat
penting dalam pertanian modern dan menjaga keberlanjutan pertanian dan
ketahanan pangan. Namun demikian, untuk
wilayah negara-negara berkembang masih banyak mengalami kendala dalam
aplikasinya untuk mendukung pengembangan pertanian berkelanjutan. Tantangan yang umum dihadapi adalah bahwa
akses telepon dan jaringan elektronik di perdesaan dan wilayah terpencil
(remote area) sangat terbatas; telecenter yang menawarkan layanan TIK masih
langka karena biaya yang diperlukan akibat tingginya investasi dan biaya operasional
yang dibutuhkan. Kekurangan pada tingkatan lokal dalam aplikasi TIK perlu
dipikirkan dalam merancang strategi aplikasi TIK sesuai dengan kondisi di
lapangan yang spesifik lokasi baik melalui kapasitas teknologi tradisional, seperti siaran radio. emerintah
dan masyarakat perdesaan dapat bekerja bersama untuk melayani pengguna atas
dasar profitabilitas di samping ada unsur sosial untuk mendukung keberlanjutan
aplikasi TIK di tingkat perdesaan.
Berdasarkan Survei yang dilakukan
oleh the International Society for Horticultural Sciences (ISHS)
hambatan-hambatan dalam mengadopsi TIK oleh petani khususnya petani
hortikultura, yaitu: keterbatasan kemampuan; kesenjangan dalam pelatihan
(training), kesadaran akan manfaat TIK, waktu, biaya dari teknologi yang digunakan,
integrasi sistem dan ketersediaan software.
Untuk responden dari negara-negara berkembang menekankan pentingnya
“biaya teknologi TIK” dan “kesenjangan infrastruktur teknologi (Taragola et al.
2009).
Beberapa hambatan dalam aplikasi TIK untuk mendukung
pembangunan pertanian berkelanjutan yang berhasil diidentifikasi oleh Sumardjo
et al. (2009) secara ringkas adalah sebagai berikut:
1. Belum adanya komitmen dari manajemen di
level stakeholders managerial yang
ditunjukkan dengan adanya kebijakan yang belum konsisten.
2. Kemampuan tingkat manajerial pimpinan di
level stakeholders (khususnya di lingkup pemda dan dinas kabupaten) sebagian
besar masih belum memiliki kapasitas di bidang teknologi informasi, sehingga
banyak sekali proses pengolahan input yang seharusnya dapat difasilitasi dengan
aplikasi teknologi informasi tidak diperhatikan dan bahkan cenderung dihindari
penerapannya.
3. Sebagian besar level manajerial belum
mengetahui secara persis konsep aplikasi teknologi informasi, sehingga
berimplikasi pada rendahnya aplikasi teknologi informasi untuk mendukung
operasionalisasi pelaksanaan tugas sehari-hari.
4. Infrastruktur penunjang tidak mendukung
operasi pengelolaan dan penyebaran informasi pertanian yang berbasis teknologi
informasi, seperti misalnya pasokan listrik yang masih kurang memadai,
perlengkapan hardware tidak tersedia
secara mencukupi baik kualitas maupun kuantitasnya, gedung atau ruangan
yang tidak memadai, serta jaringan koneksi internet yang masih sangat terbatas
(khususnya untuk wilayah remote area).
5. Biaya untuk operasional aplikasi teknologi
informasi untuk akses dan pengelolaan informasi yang disediakan oleh pemerintah
daerah khususnya sangat tidak memadai terutama untuk biaya langganan ISP untuk pengelolaan
informasi yang berbasis internet.
6. Infrastruktur telekomunikasi yang belum
memadai dan mahal. Kalaupun semua fasilitas ada, harganya masih relatif mahal.
7. Tempat akses informasi melalui aplikasi
teknologi informasi sangat terbatas. Di
beberapa tempat di luar negeri, pemerintah dan masyarakat bergotong-royong
untuk menciptakan access point yang terjangkau, misalnya di perpustakaan umum
(public library). Di Indonesia hal ini seharusnya dapat dilakukan di kantor
pos, kantor pemerintahan dan tempat-tempat umum lainnya.
8. Sebagian usia produktif dan yang bekerja di
lembaga subsistem jaringan informasi inovasi pertanian tidak berbasis teknologi
informasi, sehingga semua pekerjaan jalan seperti biasanya dan tidak pernah
memikirkan efisiensi atau pemanfaatan teknologi informasi yang konsisten.
9. Dunia teknologi informasi terlalu cepat
berubah dan berkembang, sementara sebagian besar sumber daya manusia yang ada
di lembaga subsistem jaringan informasi inoasi pertanian cenderung kurang
memiliki motivasi untuk terus belajar mengejar kemajuan teknologi informasi dan
komunikasi, sehingga seringkali kapasitas SDM yang ada tidak dapat mengikuti
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan cenderung menjadi lambat
dalam menyelesaikan tugas.
10. Kemampuan kapasitas SDM dalam aplikasi
teknologi informasi dan komunikasi, khususnya di level penyuluh pertanian
ataupun fasilitator tingkat desa sebagai motor pendamping pelaksana pembangunan
pertanian di daerah masih sangat terbatas.
11. Keterbatasan kemampuan dan pengetahuan petani
atau pengguna akhir dalam pemanfaatan teknologi informasi dalam akses informasi
inovasi pertanian dan mempromosikan produknya ke pasar yang lebih luas.
12. Dari segi sosial budaya, kultur berbagi masih
belum membudaya. Kultur berbagi (sharing) informasi dan pengetahuan untuk
mempermudah akses dan pengelolaan informasi belum banyak diterapkan oleh
anggota lembaga stakeholders. Di samping
itu, kultur mendokumentasikan informasi/data juga belum lazim, khususnya untuk
kelembagaan yang berada di daerah.
"mewujudkan sistem penyuluhan pertanian yang
andal dalam rangka mendukung peningkatan daya saing dan nilai tambah
agribisnis"
Peranan strategis sektor pertanian bagi pertumbuhan ekonomi antara lain ditunjukan oleh kedudukan sektor pertanian sebagai kontributor penting dalam pembentukan produk domestic bruto, penyediaan dan peningkatan devisa Negara melalui ekspor hasil pertanian serta penyediaan bahan baku industri.
Peranan strategis sektor pertanian bagi pertumbuhan ekonomi antara lain ditunjukan oleh kedudukan sektor pertanian sebagai kontributor penting dalam pembentukan produk domestic bruto, penyediaan dan peningkatan devisa Negara melalui ekspor hasil pertanian serta penyediaan bahan baku industri.
Untuk mewujudkan sumberdaya
manusia pertanian yang profesional, inovatif, kreatif dan berwawasan global,
Badan SDM Pertanian telah merumuskan Rencana Strategis Badan Pengembangan SDM
Pertanian 2010 – 2014 ( Renstra BPSDMP 2010 - 2014 ). Salah satu tujuan Renstra
BPSDMP 2010 – 2014 adalah “mewujudkan sistem penyuluhan pertanian yang andal
dalam rangka mendukung peningkatan daya saing dan nilai tambah agribisnis“.
Sejalan dengan kebijakan pemerintah tersebut Kementerian Pertanian telah menetapkan program utama pembangunan pertanian dalam mencapai “ Empat Sukses Pembangunan Pertanian” yaitu
Sejalan dengan kebijakan pemerintah tersebut Kementerian Pertanian telah menetapkan program utama pembangunan pertanian dalam mencapai “ Empat Sukses Pembangunan Pertanian” yaitu
1) Pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan,
2) Peningkatan diversifikasi pangan,
3) peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor, dan
4) peningkatan kesejahteraan petani.
Kegiataan penyuluhan pertanian, pelatihan pertanian, juga
ditujukan untuk:
1) memperkuat kelembagaan petani,
2) memberdayakan usaha petani, dan
3) mewujudkan pelaku utama pembangunan pertanian yang
mandiri, berjiwa wirausaha, berdaya saing, dan berwawasan global. Hal ini
dimaksudkan agar pelaku utama pembangunan pertanian mampu berdaya saing di
pasar regional maupun global.
Beberapa permasalahan yang menjadi kendala dalam
pengembangan sumber daya manusia pertanian terutama dalam aspek pelatihan dan
penyuluhan di kabupaten sampang diantaranya adalah :
a) Pola pikir dan perilaku petani masih berorientasi pada
aspek produksi sehingga kualitas dan harga yang diterima petani masih relative
rendah,
b) Rendahnya kemandirian petani dan lemahnya akses petani
terhadap modal, teknologi, sarana produksi dan informasi pasar,
c) Jumlah dan kompetensi penyuluh yang belum memadai untuk
dapat mendukung empat sukses pembangunan pertanian, maupun untuk mengantisipasi
perubahan iklim dan menjaga kelestarian lingkungan hidup,
d) Programa penyuluhan yang disusun bersama instansi terkait
dan pelaku utama belum sepenuhnya
dilaksanakan di
lapangan,
e) Dukungan dana yang terbatas menyebabkan belum optimalnya
pelaksanaan kaji terap dan diseminasi
teknologi pleh
penyuluh pertanian di lapangan.
Untuk mengatasi permasalahan sekaligus meningkatkan peran
penyuluhan petanian dalam pembangunan pertanian, kedepannya perlu adanya
sinergitas dan penyamaan persepsi terhadapa kegiatan – kegiatan penyuluhan di
daerah dengan progama penyuluhan pusat, sesuai dengan peran pemerintah sebagai
regulator, koordinator, dan supervisor
https://aristyakristina.wordpress.com/tag/pertanian/
http://distan.sumbawakab.go.id/isi.php?id=4
http://distan.sumbawakab.go.id/isi.php?id=4
http://asharameta.blogspot.co.id/
http://bpkbinuang.blogspot.co.id/2014/05/mewujudkan-sistem-penyuluhan-pertanian.html
http://bpkbinuang.blogspot.co.id/2014/05/mewujudkan-sistem-penyuluhan-pertanian.html



