Kamis, 15 Oktober 2015

“PERTANIAN MASA DEPAN”


                Pertanian adalah soal hidup dan mati”, demikian pidato Presiden Republik Indonesia yang pertama (Ir. Soekarno) saat menancapkan batu di kampus institut pertanian bogor. Sangat jelas makna dari kalimat itu, darimana kita makan selain dari hasil pertanian?sebuah kalimat pertanyaan yang menentukan keberlangsungan bangsa Indonesia, mau hidup atau mati?


Asal Mula Pertanian
                Di dalam kepustakaan kuno terdapat cerita bahwa penemu kegiatan pertanian ialah Kaisar Cina Shen Nung. Ketika melihat rakyatnya yang makan daging sapi dan ayam, ia mencetuskan untuk membuat alat pengolah tanah dari sebilah kayu yang ditajamkan dan digunakan untuk mengolah tanah . Alat tersebut merupakan model bajak pertama kali dan itulah permulaan adanya pertanian.
Bertani sebagai Budaya
                Bagi masyarakat Indonesia, bertani bukan hanya sekedar soal membajak, mengolah tanah, dan menanam padi. Lebih dari itu, bertani sudah menjadi budaya bangsa dan memiliki nilai-nilai tersendiri sejak Indonesia belum merdeka. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup, bertani juga sudah berkembang menjadi model perekonomian saat ini. Sejak dulu, nenek moyang kami sudah membuat seperangkat aturan adat untuk menjaga kelestarian alam demi keberlangsungan hidup manusia. Sebagai contoh adat istiadat ini terlihat dari cara mengatur pola tanam serta penggarapan lahan agar tidak merusak alam sekitarnya.
Realita Pertanian Indonesia
                Di saat sektor pertanian memiliki potensi yang besar, muncul kekurang tertarikan generasi muda terhadap sektor ini. Hal ini ditandai dengan menurunnya minat lulusan siswa sekolah menengah atas memilih fakultas pertanian. Berdasarkan analisis hasil SNMPTN 2010, terjadi kekosongan kursi di bidang pertanian hingga 50 persen dari daya tampung . Apakah ini bukan ancaman bagi masa depan sektor pertanian, bahkan bagi masa depan bangsa? Generasi muda di desa beramai-ramai meninggalkan desa. Anak petani lebih memilih bekerja di kota, dan menyebabkan kosongnya pertanian potensial . Sungguh ironis sekali, negara yang memiliki potensi besar dalam pertanian namun masih banyak masyarakatnya yang mengalami kasus busung lapar dan kemiskinan.
                Hal tersebut dikarenakan, banyaknya pandangan bahwa pertanian adalah pekerjaan yang tidak memiliki prospek cerah untuk menjamin masa depan. Orang tua mengajarkan anak-anak nya agar menjadi dokter, pilot, dan bidang kerja lain selain pertanian. Karena bagi mereka menjadi sarjana pertanian sama dengan memilih mendapat status kemiskinan dan pengangguran. Selain itu, pengembangan sektor pertanian oleh pemerintah kurang diminati . Pemerintah lebih memilih sektor industri yang dianggap lebih cepat menambah pertumbuhan ekonomi. Padahal, jika sektor pertanian berkembang dan didukung penuh pemerintah, sektor pertanian akan mendukung sektor-sektor yang lainnya.

Potensi Pertanian Indonesia
                Berlawanan dengan hal diatas, sektor pertanian merupakan sektor yang berperan penting dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Sebagai negara agraris dan maritim karena kekayaan alamnya, potensi Indonesia sangat besar di bidang pertanian. Hal ini dapat dilihat dari ketersediaan lahan, kesesuaian iklim, tenaga kerja yang melimpah, dan kekayaan hayati yang beragam. Indonesia juga menjadi salah satu pemasok komoditas kelapa sawit, kakao, teh, kopi, karet alam, dan rempah - rempah. Sayangnya potensi itu kini tidak lagi optimal untuk dikembangkan, karena minimnya generasi muda yang etrtarik pada sektor pertanian.
                Mengapa harus generasi muda?Kita meyakini bahwa bumi ini diciptakan bukan untuk satu zaman saja. Ketika sebuah generasi menginjak usia senja maka generasi baru akan muncul untuk menggantinya. Sebuah ungkapan para filosofi juga seringkali mengingatkan kita bahwa “bumi dan alam semesta ini bukanlah warisan dari para leluhur kita melainkan titipan bagi anak cucu (generasi penerus) kita”. Maksudnya adalah bahwa generasi muda dan juga generasi penerus kita nantinya juga memiliki hak untuk merasakan tanah yang subur, udara yang segar, air yang jernih dan kewajiban mengelolanya dengan baik sebagai rasa syukur kita akan nikmat Tuhan .
                Inilah bentuk perjuangan, kita tidak bisa bergantung pada para orang tua dulu apalagi kepada orang lain. Memang terasa sangat sulit. tetapi kita harus mengambil inisiatif untuk memulainya. Kalau tidak dimulai dari sekarang, lalu kapan lagi ?mulai dari sekarang, mulai dari diri sendiri, mulai dari hal yang kecil. Jadi, mulai hari ini jadilah Pemuda-Pemudi yang Bangga Jadi Petani Generasi Baru

 Jenis-jenis Pertanian
Berdasarkan pengelolaanya, pertanian dibedakan menjadi dua, yaitu:
                ®     Pertanian rakyat adalah pertanian yang diusahakan oleh rakyat. Pertanian ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik konsumsi sendiri maupun konsumsi lokal. Ciri-ciri: modal kecil, lahan sempit, dikelola sederhana, tenaga kerja sederhana, tenaga kerja keluarga sendiri, peralatan sendiri.
                ®    Pertanian besar adalah pertanian yang diusahakan oleh perusahaan, baik swasta maupun BUMN. Pertanian ini bertujuan untuk keperluan ekspor atau bahan baku industri. Ciri-ciri: modal usaha besar, lahan luas, dikelola secara modern.
Berdasarkan jenis tanamannya pertanian dibedakan menjadi dua yaitu:
                »  Pertanian tanaman pangan
Adalah usaha pertanian yang berupa bahan pangan. Tanaman pangan dibedakan menjadi tiga yaitu, jenis padi-padian, jenis palawija (ketela pohon, ketela rambat, umbi-umbian, kacang tanah dll) dan jenis holtikultura (buah dan sayuran)
                »  Pertanian tanaman perkebunan

Adalah usaha pertanian yang bertujuan memenuhi kebutuhan dan perdagangan besar. Tanaman perkebunan dapat dibedakan menjadi tanaman perkebunan musiman (tebu,tembakau,dll) dan tanaman perkebunan tahunan (kopi,karet, coklast,dll)
Jenis-jenis sawah meliputi
1) Sawah irigasi, yaitu sawah yang menggunakan perairan secara teratur
2) Sawah tadah hujan, aytiu sawah yang menggunakan perairan dengan air huajan
3) Sawah lebak, yaitu sawah yang diusahakan di bantaran sungai besar saat penghujan
4) Sawah bancah, yaitu sawah yang diusahakan di daerah pantai dekat muara sungai. Sawah ini juga dinamakan sawah pasang surut
 Berdasarkan lahannya pertanian dibedakan menjadi empat, yaitu:
Þ    Bersawah adalah usaha bercocok tanam yang dilakukan di sawah dengan jenis tanaman
Þ    Berladang adalah usaha bercocok di lahan kering, pada saat musim hujan dan dilakukan dengan cara berpindah-pindah
Þ    Bertegal, adalah usaha bercocok tanam di lahan kering dengan memanfaatkan air hujan. Hasilnya jagung, kacang, ketela dll
Þ    Berkebun, adalah usaha bercocok tanam yang dilakukan di sekitar rumah (pekarangan)

Berdasarkan strategi prioritas pembangunan pertanian diatas maka dapat dirinci sebagai berikut :
1. Strategi Pengembangan Sumber Daya Alam
     1   Pemanfaatan Sumber Daya Alam yang berwawasan lingkungan.
        Sasaran pemanfaatan lahan Tahun 2005 – 2010 adalah :
          Peningkatan Produktivitas/Produksi komoditas unggulan dan spesifik lokasi yang berwawasan lingkungan dan berorientasi Agribisnis.
            Pengembangan lahan kering dan konservasi yang belum dimanfaatkan untuk komoditas pertanian cukup besar. Sasaran pengembangan adalah perluasan areal komoditas unggulan dan spesifikasi lokal sesuai dengan kemampuan dan kesesuaian lahan.
        2 Pengembangan Kawasan Sentra Produksi.
        Pengembangan lahan diharapkan akan terjadi kawasan sentra produksi komoditas pertanian dengan memperhatikan aspek-aspek agribisnis yang selanjutnya akan diharapkan adanya Kawasan Sentra Agribisnis.

 2.  Strategi Pengembangan Sumber Daya Buatan Manusia.
        A. Peningkatan Pengelolaan Administrasi dan Manajemen pembangunan pertanian
        Sasaran Pengembangan adalah meningkatnya kapasitas sarana kerja dan bangunan kantor tahun 2005-2010 untuk menunjang kegiatan pelaksanaan tugas aparatur dlam meningkatkan pelayanan masyarakat.
        B. Peningkatan infrastruktur pertanian.
                Peningkatan infrastruktur air irigasi dan jalan usaha tani dalam rangka memperbaiki sistem usaha tani sehingga mampu memberikan hasil produksi yang optimal dalam meningkatkan pendapatan petani.
        C. Peningkatan Penyediaan Sarana Pertanian.
        D. Peningkatan Penyediaan Sarana Produksi.
                Untuk mengoptimalkan penggunaan lahan pertanian diperlukan adanya ketersediaan sarana produksi seperti penyediaan benih, pupuk dan pestisida yang memenuhi kriteria 6 tepat yaitu : tepat jenis, tepat mutu, tepat jumlah, tepat harga, tepat waktu dan tepat tempat.
   3.  Peningkatan Penyediaan Alat dan Mesin Pertanian.
    Ketersediaan alat dan mesin pertanian bertujuan untuk memperpendek masa olah tanah sehinga terjadi peningkatan Intensitas Pertanaman, meningkatkan pendayagunaan air permukaan dan air tanah, meningkatkan penanganan pasca panen.
  Mengembangkan Agroindustri Pengolahan Hasil.
     1. Pengembangan unit mesin penggilingan padi di Kabupaten Sumbawa bertujuan meningkatkan nilai tambah hasil pertanian, memberi peluang kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal.
     2. Pengembangan Unit Pengolahan Hasil Lainnya.
 Sasaran ditujukan kepada kelompok wanita tani dalam membangun industri rumah tangga (Home industri) dengan penyediaan alat.
 4.   Strategi Pengembangan Sumber Daya Manusia.
      a  Meningkatkan Kwantitas Aparatur.
      B Meningkatkan Kualitas Aparatur.
            Penerimaan pegawai baru dengan tingkat pendidikan sarjana pertanian dari segala disiplin ilmu.
            Memberi kesempatan belajar dari Aparatur yang sudah ada.
            Memberikan kesempatan mengikuti kursus dan pelatihan teknis bagi aparatur pertanian.
      C. Meningkatkan Kualitas Masyarakat Tani.
        Strategi yang ditempuh untuk menjadikan petani yang berkualitas adalah :
            Melakukan kursus dan pelatihan bagi petani sesuai bidang usaha taninya.
            Magang dan Study Banding.

   5.  Strategi Pengembangan Sumber Daya Sosial Kelembagaan.
       A. Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Kelembagaan Pertanian.
          1.  Meningkatkan fungsi kelembagaan Pertanian (KCD, BBU, UPTD lainnya) sebagai pusat informasi masyarakat dalam penyiapan sarana perbenihan dan Paket Teknologi Pertanian.
            2. Meningkatkan kemampuan aparat pengelola kelembagaan Pertanian.
       B. Meningkatkan Pemberdayaan Kelembagaan Petani.
           1. Pembinaan dan pengembangan kelompok P3A, Kel. Tani, KTNA, KWT dan UPJA.
            2. Revitalisasi kelompok tani untuk dikembangkan menjadi kelompok Agribisnis yang mandiri.
       C.  Menumbuhkan kelembagaan Agribisnis dan Agroindustri yang bertumpu pada pasar.
           1 Kelompok kawasan sentra Agribisnis.
            2Kelompok usaha pengolahan hasil.

HAMBATAN DALAM APLIKASI TIK
                Meskipun disadari TIK memiliki peranan yang sangat penting dalam mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan, namun sampai saat ini petani di dunia, khususnya di Indonesia masih belum dipertimbangkan dalam bisnis TIK dan lingkungan kebijakan.  Fakta yang agak mengejutkan adalah bahwa aplikasi TIK memiliki  kontribusi yang tidak terukur secara ekonomi bagi  masing-masing GDPs. Dalam waktu yang sama, pemanfaatan TIK dalam pembangunan pertanian berkelanjutan membutuhkan proses pendidikan dan peningkatan kapasitas karena masih terdapat kesenjangan secara teknis maupun keterampilan dalam bisnis secara elektronik (e-business). 
                Survei yang dilakukan oleh the International Society for Horticultural Sciences (ISHS) telah mengidentifikasi hambatan-hambatan dalam mengadopsi TIK oleh petani khususnya petani hortikultura, yaitu: keterbatasan kemampuan; kesenjangan dalam pelatihan (training), kesadaran akan manfaat TIK, waktu, biaya dari teknologi yang digunakan, integrasi sistem dan ketersediaan software. Partisipan dari negara-negara maju menekankan pada hambatan: tidak adanya manfaat ekonomi yang dapat dirasakan, tidak memahami nilai lebih dari TIK, tidak cukup memiliki waktu untuk menggunakan teknologi dan tidak mengetahui bagaimana mengambil manfaat dari penggunaan TIK. Responden dari negara-negara berkembang menekankan pentingnya “biaya teknologi TIK” dan “kesenjangan infrastruktur teknologi.” Hasil kuesioner dari  the Institute for Agricultural and Fisheries Research  sejalan dengan survei  ISHS dan survey dari the European Federation for Information Technology in Agriculture (EFITA) yang mengindikasikan adanya suatu pergeseran dari  kecakapan secara teknis TIK sebagai suatu faktor pembatas menuju pada kesenjangan pemahaman bagaimana mengambil manfaat dari pilihan TIK yang bervariasi (Taragola et al. 2009).
                TIK memiliki peranan yang sangat penting dalam pertanian modern dan menjaga keberlanjutan pertanian dan ketahanan pangan.  Namun demikian, untuk wilayah negara-negara berkembang masih banyak mengalami kendala dalam aplikasinya untuk mendukung pengembangan pertanian berkelanjutan.  Tantangan yang umum dihadapi adalah bahwa akses telepon dan jaringan elektronik di perdesaan dan wilayah terpencil (remote area) sangat terbatas; telecenter yang menawarkan layanan TIK masih langka karena biaya yang diperlukan akibat tingginya investasi dan biaya operasional yang dibutuhkan. Kekurangan pada tingkatan lokal dalam aplikasi TIK perlu dipikirkan dalam merancang strategi aplikasi TIK sesuai dengan kondisi di lapangan yang spesifik lokasi baik melalui kapasitas teknologi  tradisional, seperti siaran radio. emerintah dan masyarakat perdesaan dapat bekerja bersama untuk melayani pengguna atas dasar profitabilitas di samping ada unsur sosial untuk mendukung keberlanjutan aplikasi TIK di tingkat perdesaan.
                Berdasarkan Survei yang dilakukan oleh the International Society for Horticultural Sciences (ISHS) hambatan-hambatan dalam mengadopsi TIK oleh petani khususnya petani hortikultura, yaitu: keterbatasan kemampuan; kesenjangan dalam pelatihan (training), kesadaran akan manfaat TIK, waktu, biaya dari teknologi yang digunakan, integrasi sistem dan ketersediaan software.    Untuk responden dari negara-negara berkembang menekankan pentingnya “biaya teknologi TIK” dan “kesenjangan infrastruktur teknologi (Taragola et al. 2009).
Beberapa hambatan dalam aplikasi TIK untuk mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan yang berhasil diidentifikasi oleh Sumardjo et al. (2009) secara ringkas adalah sebagai berikut:
                1.    Belum adanya komitmen dari manajemen di level stakeholders managerial  yang ditunjukkan dengan adanya kebijakan yang belum konsisten. 
                2.    Kemampuan tingkat manajerial pimpinan di level stakeholders (khususnya di lingkup pemda dan dinas kabupaten) sebagian besar masih belum memiliki kapasitas di bidang teknologi informasi, sehingga banyak sekali proses pengolahan input yang seharusnya dapat difasilitasi dengan aplikasi teknologi informasi tidak diperhatikan dan bahkan cenderung dihindari penerapannya.
                3.    Sebagian besar level manajerial belum mengetahui secara persis konsep aplikasi teknologi informasi, sehingga berimplikasi pada rendahnya aplikasi teknologi informasi untuk mendukung operasionalisasi pelaksanaan tugas sehari-hari.
                4.    Infrastruktur penunjang tidak mendukung operasi pengelolaan dan penyebaran informasi pertanian yang berbasis teknologi informasi, seperti misalnya pasokan listrik yang masih kurang memadai, perlengkapan hardware tidak tersedia  secara mencukupi baik kualitas maupun kuantitasnya, gedung atau ruangan yang tidak memadai, serta jaringan koneksi internet yang masih sangat terbatas (khususnya untuk wilayah remote area).
                5.    Biaya untuk operasional aplikasi teknologi informasi untuk akses dan pengelolaan informasi yang disediakan oleh pemerintah daerah khususnya sangat tidak memadai terutama untuk biaya langganan ISP untuk pengelolaan informasi yang berbasis internet.
                6.    Infrastruktur telekomunikasi yang belum memadai dan mahal. Kalaupun semua fasilitas ada, harganya masih relatif mahal.
                7.    Tempat akses informasi melalui aplikasi teknologi informasi sangat terbatas.  Di beberapa tempat di luar negeri, pemerintah dan masyarakat bergotong-royong untuk menciptakan access point yang terjangkau, misalnya di perpustakaan umum (public library). Di Indonesia hal ini seharusnya dapat dilakukan di kantor pos, kantor pemerintahan dan tempat-tempat umum lainnya. 
                8.    Sebagian usia produktif dan yang bekerja di lembaga subsistem jaringan informasi inovasi pertanian tidak berbasis teknologi informasi, sehingga semua pekerjaan jalan seperti biasanya dan tidak pernah memikirkan efisiensi atau pemanfaatan teknologi informasi yang konsisten.
                9.    Dunia teknologi informasi terlalu cepat berubah dan berkembang, sementara sebagian besar sumber daya manusia yang ada di lembaga subsistem jaringan informasi inoasi pertanian cenderung kurang memiliki motivasi untuk terus belajar mengejar kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga seringkali kapasitas SDM yang ada tidak dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dan cenderung menjadi lambat dalam menyelesaikan tugas.
                10.  Kemampuan kapasitas SDM dalam aplikasi teknologi informasi dan komunikasi, khususnya di level penyuluh pertanian ataupun fasilitator tingkat desa sebagai motor pendamping pelaksana pembangunan pertanian di daerah masih sangat terbatas.   
                11.  Keterbatasan kemampuan dan pengetahuan petani atau pengguna akhir dalam pemanfaatan teknologi informasi dalam akses informasi inovasi pertanian dan mempromosikan produknya ke pasar yang lebih luas.
                12.  Dari segi sosial budaya, kultur berbagi masih belum membudaya. Kultur berbagi (sharing) informasi dan pengetahuan untuk mempermudah akses dan pengelolaan informasi belum banyak diterapkan oleh anggota lembaga stakeholders.  Di samping itu, kultur mendokumentasikan informasi/data juga belum lazim, khususnya untuk kelembagaan yang berada di daerah.
"mewujudkan sistem penyuluhan pertanian yang andal dalam rangka mendukung peningkatan daya saing dan nilai tambah agribisnis"

         
Peranan strategis sektor pertanian bagi pertumbuhan ekonomi antara lain ditunjukan oleh kedudukan sektor pertanian sebagai kontributor penting dalam pembentukan produk domestic bruto, penyediaan dan peningkatan devisa Negara melalui ekspor hasil pertanian serta penyediaan bahan baku industri.
                Untuk mewujudkan sumberdaya manusia pertanian yang profesional, inovatif, kreatif dan berwawasan global, Badan SDM Pertanian telah merumuskan Rencana Strategis Badan Pengembangan SDM Pertanian 2010 – 2014 ( Renstra BPSDMP 2010 - 2014 ). Salah satu tujuan Renstra BPSDMP 2010 – 2014 adalah “mewujudkan sistem penyuluhan pertanian yang andal dalam rangka mendukung peningkatan daya saing dan nilai tambah agribisnis“.
                Sejalan dengan kebijakan pemerintah tersebut Kementerian Pertanian telah menetapkan program utama pembangunan pertanian dalam mencapai “ Empat Sukses Pembangunan Pertanian” yaitu
1) Pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan,
2) Peningkatan diversifikasi pangan,
3) peningkatan nilai tambah, daya saing dan ekspor, dan
4) peningkatan kesejahteraan petani.

Kegiataan penyuluhan pertanian, pelatihan pertanian, juga ditujukan untuk:
1) memperkuat kelembagaan petani,
2) memberdayakan usaha petani, dan
3) mewujudkan pelaku utama pembangunan pertanian yang mandiri, berjiwa wirausaha, berdaya saing, dan berwawasan global. Hal ini dimaksudkan agar pelaku utama pembangunan pertanian mampu berdaya saing di pasar regional maupun global.
Beberapa permasalahan yang menjadi kendala dalam pengembangan sumber daya manusia pertanian terutama dalam aspek pelatihan dan penyuluhan di kabupaten sampang diantaranya adalah :
a) Pola pikir dan perilaku petani masih berorientasi pada aspek produksi sehingga kualitas dan harga yang diterima petani masih relative rendah,
b) Rendahnya kemandirian petani dan lemahnya akses petani terhadap modal, teknologi, sarana produksi dan informasi pasar,
c) Jumlah dan kompetensi penyuluh yang belum memadai untuk dapat mendukung empat sukses pembangunan pertanian, maupun untuk mengantisipasi perubahan iklim dan menjaga kelestarian lingkungan hidup,
d) Programa penyuluhan yang disusun bersama instansi terkait dan pelaku utama belum sepenuhnya
    dilaksanakan di lapangan,
e) Dukungan dana yang terbatas menyebabkan belum optimalnya pelaksanaan kaji terap dan diseminasi
    teknologi pleh penyuluh pertanian di lapangan.
Untuk mengatasi permasalahan sekaligus meningkatkan peran penyuluhan petanian dalam pembangunan pertanian, kedepannya perlu adanya sinergitas dan penyamaan persepsi terhadapa kegiatan – kegiatan penyuluhan di daerah dengan progama penyuluhan pusat, sesuai dengan peran pemerintah sebagai regulator, koordinator, dan supervisor





https://aristyakristina.wordpress.com/tag/pertanian/

http://distan.sumbawakab.go.id/isi.php?id=4

http://asharameta.blogspot.co.id/

http://bpkbinuang.blogspot.co.id/2014/05/mewujudkan-sistem-penyuluhan-pertanian.html




Senin, 12 Oktober 2015

Peternak



                                     Pengertian Peternakan
            Peternakan adalah segala aktivitas manusia yang berhubungan dengan memelihara hewan ternak yang dapat diambil manfaatnya dari hewan tersebut guna memenuhi kebutuhan hidup.
1) Berbagai Jenis Peternakan di Indonesia
Peternakan di Indonesia dikelompokkan ke dalam tiga jenis.
1) Ternak Besar
            Hewan ternak besar yang sangat potensial untuk dibudidayakan adalah sapi. Jenis sapi yang biasa diupayakan penduduk terdiri atas dua jenis, yaitu sapi potong dan sapi perah. Pembudidayaan atau ternak sapi potong banyak dijumpai di Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara, sedangkan daerah persebaran ternak sapi perah antara lain Lembang (Jawa Barat), Boyolali (Jawa Tengah), dan Grati (Jawa Timur). Daerah yang paling cocok untuk pemeliharaan sapi perah adalah di kawasan pegunungan dan dataran tinggi. Hal ini sangat berkaitan dengan salah satu syarat hidupnya yaitu suhu yang sejuk. Sebagian besar sistem peternakan sapi yang dilaksanakan di Nusa Tenggara Timur dilakukan dengan cara dibiarkan berkeliaran secara bebas di kawasan padang rumput hanya sewaktu-waktu saja dikandangkan. Dari ternak ini dapat dihasilkan antara lain daging, susu, kulit, dan tanduk.
Kerbau merupakan komoditas ternak besar kedua yang juga banyak dimanfaatkan tenaganya oleh penduduk. Binatang ini banyak dipelihara di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Selain itu juga terdapat di Tana Toraja Sulawesi Selatan. Hewan ternak besar lainnya adalah kuda. Hewan ini banyak dimanfaatkan sebagai alat transportasi yang utama sebelum ada sarana transportasi kendaraan bermotor. Jenis kuda yang biasa diternakkan di Indonesia berasal dari Arab Saudi, Persia, dan Mongolia. Kuda-kuda impor yang berasal dari ketiga negara tersebut, kemudian dikawinsilangkan untuk memperoleh jenis yang baru, dengan harapan untuk memperoleh keturunan unggul, seperti kuda Sandel (Sandel Wood) di Sumbawa, kuda batak, dan kuda di Pulau Jawa.
Pada saat ini, telah banyak upaya dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas ternak kuda, yaitu dengan cara melakukan kawin silang antara kuda jenis Australia dengan kuda sandel. Sebagaimana diketahui wilayah Sumbawa merupakan salah satu daerah di Indonesia yang masih mengusahakan ternak kuda dalam skala besar. Selain untuk di ekspor, fungsi utama kuda sandel adalah untuk membajak lahan pertanian penduduk.
2) Ternak Kecil
            Ternak kecil terdiri atas jenis hewan domba (biri-biri), kambing, dan kelinci. Usaha pemeliharaan domba atau kambing ditemui hampir di seluruh wilayah tanah air, walaupun dalam skala kecil. Di wilayah perdesaan banyak penduduk yang memelihara hewan ini sebagai usaha sampingan pertanian. Ada dua cara pemeliharaan kambing yang umum dilakukan penduduk, yaitu melalui system penggembalaan di kawasan tegalan atau dengan cara dikurung di kandang, hanya sewaktu-waktu dilepas atau digembalakan. Selain dimanfaatkan dagingnya untuk konsumsi masyarakat dalam rangka pemenuhan kebutuhan protein hewani, manfaat yang dapat diambil dari pemeliharaan kambing adalah kulit, susu, dan bulunya. Kulit kambing merupakan salah satu baku industri sepatu dan tas, sedangkan bulu domba adalah bahan baku kain wool yang
relatif mahal harganya. Misalnya, bulu biri-biri merino yang sangat terkenal karena sangat tebal dan berkualitas tinggi. Ternak babi banyak diupayakan penduduk di daerah Bali, Nusa Tenggara Timur, Papua, Tapanuli, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan. Adapun hewan kelinci biasa diupayakan penduduk yang tinggal di wilayah dataran tinggi, karena hewan ini sangat cocok hidup di wilayah sejuk.
3) Ternak Unggas
            Unggas merupakan kelompok hewan yang bersayap. Beberapa jenis hewan unggas, seperti ayam, itik, bebek, angsa, serta burung puyuh banyak diternakan oleh penduduk, baik dalam skala kecil dan sederhana, serta diperuntukkan bagi pemenuhan keperluan keluarga, maupun yang yang diupayakan secara profesional dengan teknologi peternakanyang modern. Beberapa jenis komoditas peternakanunggulan antara lain:
itik alabio yang berasal dari Kalimantan Selatan yang berkualitas baik;
ayam ras broiler, dipelihara sebagai ayam pedaging;
ayam ras leghorn, dipelihara sebagai ayam petelor; dan
ayam buras (bukan ras) atau ayam kampung.
       Sejarah peternakan
            Sistem peternakan diperkirakan telah ada sejak 9.000 SM yang dimulai dengan domestikasi anjing, kambing, dan domba. Peternakan semakin berkembang pada masa Neolitikum, yaitu masa ketika manusia mulai tinggal menetap dalam sebuah perkampungan. Pada masa ini pula, domba dan kambing yang semula hanya diambil hasil dagingnya, mulai dimanfaatkan juga hasil susu dan hasil bulunya (wol). Setelah itu manusia juga memelihara sapi dan kerbau untuk diambil hasil kulit dan hasil susunya serta memanfaatkan tenaganya untuk membajak tanah.
            Manusia juga mengembangkan peternakan kuda, babi, unta, dan lain-lain.Ilmu pengetahuan tentang peternakan, diajarkan di banyak universitas dan perguruan tinggi di seluruh dunia.Para siswa belajar disiplin ilmu seperti ilmu gizi, genetika dan budi-daya, atau ilmu reproduksi. Lulusan dari perguruan tinggi ini kemudian aktif sebagai doktor haiwan, farmasi ternak, pengadaan ternak dan industri makanan. Dengan segala keterbatasan peternak, perlu dikembangkan sebuah sistem peternakan yang berwawasan ekologis, ekonomis, dan berkesinambungan sehingga peternakan industri dan peternakan rakyat dapat mewujudkan ketahanan pangan dan mengantasi kemiskinan.
Tujuan
            Suatu usaha agribisnis seperti peternakan harus mempunyai tujuan, yang berguna sebagai evaluasi kegiatan yang dilakukan selama beternak salah atau benar  Contoh tujuan peternakan yaitu tujuan komersial sebagai cara memperoleh keuntungan. Bila tujuan ini yang ditetapkan maka segala prinsip ekonomi perusahaan, ekonomi mikro dan makro, konsep akuntansi dan manajemen harus diterapkan. Namun apabila peternakan dibuka untuk tujuan pemanfaatan sumber daya, misalnya tanah atau untuk mengisi waktu luang tujuan utama memang bukan merupakan aspek komersial, namun harus tetap mengharapkan modal yang ditanamkan dapat kembali.
Manfaat Beternak
            Manfaat yang dapat diambil dari usaha beternak kambing selain diambil dagingnya, kambing dapat dimanfaatkan kulitnya, kotorannya dan tulangnya. Bahkan jenis-jenis kambing tertentu dapat dimbil susunya, bulunya untuk kain wol.
            Manfaat yang dapat diambil dari usaha beternak lebah Apis mellifera yang bibit awalnya didatangkan dari Australia adalah jasanya untuk polinasi (penyerbukan), banyak pemilik perkebunan di luar Indonesia yang menyewa koloni lebah dari peternak untuk melakukan penyerbukan di perkebunannya. Perkebunan yang sering menyewa koloni lebah adalah perkebunan apel.
            Beternak kelinci juga banyak memiliki manfaat, diantaranya yaitu daging yang dapat diambil untuk menambah gizi keluarga, penambah penghasilan keluarga, kulit kelinci dapat dijual untuk bahan industri, kotoran serta air kencingnya dapat kita jual untuk dijadikan pupuk tanaman serta untuk bahan bakar biogas.
Beberapa startegi pemasaran
1. Mencari tengkulak/penjual
            Cara paling mudah didapatkan dengan bekerjasama dengan tengkulak/penjual di pasar-pasar induk, namun cara ini mungkin akan mematikan kreatifitas bisnis, dan keuntungan relatif kecil. Namun cara ini bisa memudahkan peternak karena tidak perlu memikirkan pembeli, karena setiap hari sudah ada yang mengambil.
2. Menjual sendiri di pasar
            Cara ini sedikit  menyita waktu, namun anda bisa bebas menentukan harga (batasan harga pasaran). Selain itu juga bisa mengetahui jumlah dan minat konsumen. Jika ternyata  permintaan meningkat, peternak akan lebih semangat memperbesar usahanya.
3. Mengemas dan menjual di supermarket
            Ini strategi pemasaran yang  nilai keuntungan paling besar. Jika anda lihat selalu ada  stok telur ayam kampung di supermarket-supermarket. Banyak syarat yang diajukan oleh pihak supermarket pastinya, terutama kualitas dan kemampuan memenuhi stok harian.  Namun bisa menjadi  kendala jika lokasi peternak jauh dari perkotaan.
4. Menjalin hubungan dengan Dinas Pertanian/Peternakan
            Jangan sungkan untuk menjalin hubungan dengan mereka. Orang Dinas pada umumnya terbuka pada petani dan peternak yang ingin bekerjasama. Mereka menguasai strategi pemasaran dan bahkan data-data distribusi produk ternak. Anda bisa mencapai skala ekspor jika kerjasama terjalin bagus dan usaha terus berkembang.
5. Jalin hubungan dan manfaatkan media informasi
            Ketika usaha ternak sudah benar-benar berdiri dan mempunyai batasan produsi yang layak setiap harinya, anda sangat mungkin bisa mendistribusikan ke luar daerah. caranya  adalah dengan hubungan informasi dengan distributor, Dinas, atau media informasi, misal surat kabar dan internet untuk promosi.


DAFTAR PUSTAKA

http://ghozaliq.com/2015/01/25/pengertian-peternakan-dan-jenisnya-di-indonesia/
http://wacanapengetahuan.blogspot.co.id/2013/11/peternakan-hewan-besar-peternakan-kecil_5866.html
https://infopeternakan.wordpress.com/2010/07/27/peternakan-adalah/
https://id.wikipedia.org/wiki/Peternakan
http://www.publikasionline.com/2014/01/strategi-pemasaran-telur-ayam-kampung.html
















MASYARAKAT EKONOMI ASEAN (MEA)



              Masyarakat Ekonomi Asean adalah integrasi kawasan ASEAN dalam bidang perekonomian. Pembentukan MEA dilandaskan pada empat pilar. Pertama, menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal dan pusat produksi. Kedua, menjadi kawasan ekonomi yang kompetitif. Ketiga, menciptakan pertumbuhan ekonomi yang seimbang, dan pilar terakhir adalah integrasi ke ekonomi global.
            Penyatuan ini ditujukan untuk meningkatkan daya saing kawasan, mendorong pertumbuhan ekonomi, menekan angka kemiskinan dan untuk meningkatkan standar hidup masyarakat ASEAN. Integrasi ini diharapkan akan membangun perekonomian ASEAN serta mengarahkan ASEAN sebagai tulang punggung perekonomian Asia.
            Dengan dimulainya MEA maka setiap negara anggota ASEAN harus meleburkan batas teritori dalam sebuah pasar bebas. MEA akan menyatukan pasar setiap negara dalam kawasan menjadi pasar tunggal. Sebagai pasar tunggal, arus barang dan jasa yang bebas merupakan sebuah kemestian. Selain itu negara dalam kawasan juga diharuskan membebaskan arus investasi, modal dan tenaga terampil.
            MEA memang sebuah kesepakatan yang mempunyai tujuan yang luar biasa namun beberapa pihak juga mengkhawatirkan kesepakatan ini. Arus bebas barang, jasa, investasi, modal dan tenaga kerja tersebut tak pelak menghadirkan kekhawatiran tersendiri bagi beberapa pihak. Dalam hal ini pasar potensial domestik dan lapangan pekerjaan menjadi taruhan. Sekedar bahan renungan,  indek daya saing global Indonesia tahun 2013-2014 (rangking yang jauh di bawah Singapura , Malaysia , Brunai Darussalam dan satu peringkat di bawah Thailand . Di sisi lain coba kita lihat populasi Indonesia yang hampir mencapai 40% populasi ASEAN. Sebuah pasar yang besar tapi tak didukung daya saing yang maksimal. Jangan sampai Indonesia mengulang dampak perdagangan bebas ASEAN China. Berharap peningkatan perekonomian malah kebanjiran produk China.

Tujuan dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) untuk meningkatkan stabilitas perekonomian dikawasan ASEAN.
 Pahami Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015ASEAN terdiri dari sepuluh negara yang bergabung. Indonesia tengah bersiap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015. Dampak terciptanya MEA adalah pasar bebas di bidang permodalan, barang dan jasa, serta tenaga kerja.
            Memang tujuan dibentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) untuk meningkatkan stabilitas  perekonomian dikawasan ASEAN, serta diharapkan mampu mengatasi masalah-masalah dibidang ekonomi antar negara ASEAN.
            ASEAN merupakan kekuatan ekonomi ketiga terbesar setelah Jepang dan Tiongkok, di mana terdiri dari 10 Negara yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, thailand, Brunei Darussalam, Vietnam, Laos, Myanmar, dan Kamboja.
Pembentukan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) berawal dari kesepakatan para pemimpin ASEAN dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) pada Desember 1997 di Kuala Lumpur, Malaysia. Kesepakatan ini bertujuan meningkatkan daya saing ASEAN serta bisa menyaingi Tiongkok dan India untuk menarik investasi asing. Modal asing dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan kesejahteraan warga ASEAN.
            Pada KTT selanjutnya yang berlangsung di Bali Oktober 2003, petinggi ASEAN mendeklarasikan bahwa pembentukan MEA pada tahun 2015.
            Ada beberapa dampak dari konsekuensi MEA, yakni dampak aliran bebas barang bagi negara-negara ASEAN, dampak arus bebas jasa, dampak arus bebas investasi, dampak arus tenaga kerja terampil, dan dampak arus bebas modal. Tidak hanya dampak, ada beberapa hambatan Indonesia untuk menghadapi MEA.
            Pertama, mutu pendidikan tenaga kerja masih rendah, di mana hingga Febuari 2014 jumlah pekerja berpendidikan SMP atau dibawahnya tercatat sebanyak 76,4 juta orang atau sekitar 64 persen dari total 118 juta pekerja di Indonesia.
            Kedua, ketersediaan dan kualitas infrastuktur masih kurang sehingga memengaruhi kelancaran arus barang dan jasa.
            Ketiga, sektor industri yang rapuh karena ketergantungan impor bahan baku dan setengah jadi.
            Keempat, keterbatasan pasokan energi.
            Kelima, lemahnya Indonesia menghadapi serbuan impor, dan sekarang produk impor Tiongkok sudah membanjiri Indonesia.
            Menjelang MEA yang sudah di depan mata, pemerintah Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan langkah strategis dalam sektor tenaga kerja, sektor infrastuktur, dan sektor industri.
Kesiapan Indonesia Menghadapi MEA 2015
          Indonesia adalah salahsatu Negara terbesar populasinya yang ada di kawasan ASEAN. Masyarakat Indonesia adalah Negara Heterogen dengn berbagai jenis suku, bahasa dan adat istiadat yang terhampar dari Sabang sampai Merauke. Indonesia mempunyai kekuatan ekonomi yang cukup bagus, pertumbuhan ekonomi tertinggi di dunia (4,5%) setelah RRT dan India. Ini akan menjadi modal yang penting untuk mempersiapkan masyarakat Indonesia menuju AEC tahun 2015.
            Sebagai salah satu dari tiga pilar utama ASEAN Community 2015, ASEAN EconomicCommunity yang dibentuk dengan misi menjadikan perekonomian di ASEAN menjadi lebih baik serta mampu bersaing dengan Negara-negara yang perekonomiannya lebih maju dibandingkan dengan kondisi Negara ASEAN saat ini. Selain itu juga dengan terwujudnya ASEAN Community yang dimana di dalamnya terdapat AEC, dapat menjadikan posisi ASEAN menjadi lebih strategis di kancah Internasional, kita mengharapkan dengan  dengan terwujudnya komunitas masyarakat ekonomi ASEAN ini dapat membuka mata semua pihak, sehingga terjadi suatu dialog antar sektor yang dimana nantinya juga saling melengkapi diantara para stakeholder sektor ekonomi di Negara-negara ASEAN ini sangat penting.  Misalnya untuk infrastruktur, jika kita berbicara tentang infrastruktur mungkin Indonesia masih sangat dinilai kurang, baik itu berupa jalan raya, bandara, pelabuhan, dan lain sebagainya. Dalam hal ini kita dapat memperoleh manfaat dari saling tukar pengalaman dengan anggota ASEAN lainnya.
            Jika dilihat dari sisi demografi Sumber Daya Manusia-nya, Indonesia dalam menghadapi ASEAN Economic Community ini sebenarnya merupakan salah satu Negara yang produktif. Jika dilihat dari faktor usia, sebagian besar penduduk Indonesia atau sekitar 70% nya merupakan usia produktif. Jika kita lihat pada sisi ketenaga kerjaan kita memiliki 110 juta tenaga kerja (data BPS, tahun 2007), namun apakah sekarang ini kita utilize dengan tenaga kerja kita yang berjumlah sekitar 110 juta itu.
            Untuk itu kita harus mampu meningkatkan kepercayaan diri bahwa sebetulnya apabila kita memiliki kekuatan untuk bisa bangkit dan terus menjaga kesinambungan stabilitas ekonomi kita yang sejak awal pemerintahan Presiden Susilo Bamabang Yudhoyono ini terus meningkat, angka kemiskinan dapat ditekan seminim mungkin, dan progres dalam bidang ekonomi lainnya pun mengalami kemajuan yang cukup signifikan. Dengan hal tersebut banyak sekali yang bisa kita wujudkan terutama dengan merealisasikan ASEAN Economy Community 2015 nanti. Stabilitas ekonomi Indonesia yang kondusif ini merupakan sebuah opportunity dimana Indonesia akan menjadi sebuah kekuatan tersendiri, apalagi dengan sumber daya alam yang begitu besar, maka akan sangat tidak masuk akal apabila kita tidak bisa berbuat sesuatu dengan hal tersebut.
            Melihat kondisi ekonomi Indonesia yang stabil dan mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa tahun belakangan ini, saya menyimpulkan bahwa mengenai kesiapan Indonesia dalam menyongsong ASEAN Economic Community, bisa dikatakan siap, dapat dilihat dari keseriusan pemerintah dalam menangani berbagai masalah pada bidang ekonomi baik itu masalah dalam negeri ataupun luar negeri.
            Selain itu, posisi Indonesia sebagai Chair dalam ASEAN pada tahun 2012 ini berdampak sangat baik untuk menyongsong terealisasinya ASEAN Economic Community. Dari dalam negeri sendiri Indonesia telah berusaha untuk mengurangi kesenjangan ekonomi Kesenjangan antara pemerintah pusat dengan daerah lalu mengurangi kesenjangan antara pengusaha besar dengan UKM dan peningkatan dalam beberapa sektor yang mungkin masih harus didorong untuk meningkatkan daya saing.
                Berkaca pada salah satu statement ASEAN Community bahwa “Masyarakat ASEAN 2015 adalah Warga ASEAN yang cukup sandang pangan, cukup lapangan pekerjaan, pengangguran kecil tingkat kemiskinan berkurang melalui upaya penanggulangan kemiskinan yang kongkrit.” Pemerintah Indonesia sampai dengan pada saat ini terus berusaha untuk mewujudkan masyarakat Indonesia itu sendiri makmur dan berkecukupan sebelum memasuki AEC kelak.
            ASEAN pada awalnya hanyalah sebuah organisasi regional yang bentuk kerjasamanya loose atau tidak longgar, namun dengan adanya ASEAN Charter maka Negara-negara ASEAN ini membentuk suatu masyarakat ASEAN yang mempunyai tiga pilar utama yaitu, ASEAN Economic Community, ASEAN Security Community, ASEAN Socio-Cultural Community dengan tujuan terciptanya stabilitas, perdamaian dan kemakmuran bersama di kawasan. Pada awalnya ASEAN Community ini akan diwujudkan pada tahun 2020, namun di percepat menjadi tahun 2015 yang mana waktu realisasinya tinggal 3 tahun lagi.
            ASEAN Economic Community (AEC) sebenarnya merupakan bentuk integrasi ekonomi yang sangat potensial di kawasan maupun dunia. Barang, jasa, modal dan investasi akan bergerak bebas di kawasan ini. Integrasi ekonomi regional memang suatu kecenderungan dan keharusan di era global saat ini. Hal ini menyiratkan aspek persaingan yang menyodorkan peluang sekaligus tantangan bagi semua negara. Skema AEC 2015 tentang ketenagakerjaan, misalnya, memberlakukan liberalisasi tenaga kerja profesional papan atas, seperti dokter, insinyur, akuntan dsb. Celakanya tenaga kerja kasar yang merupakan “kekuatan” Indonesia tidak termasuk dalam program liberalisasi ini. Justru tenaga kerja informal yang selama ini merupakan sumber devisa non-migas yang cukup potensional bagi Indonesia, cenderung dibatasi pergerakannya di era AEC 2015.
Ada tiga indikator untuk meraba posisi Indonesia dalam AEC 2015. Pertama, pangsa ekspor Indonesia ke negara-negara utama ASEAN (Malaysia, Singapura, Thailand, Pilipina) cukup besar yaitu 13.9% (2005) dari total ekspor. Dua indikator lainnya bisa menjadi penghambat yaitu menurut penilaian beberapa institusi keuangan internasional - daya saing ekonomi Indonesia jauh lebih rendah ketimbang Singapura, Malaysia dan Thailand. Percepatan investasi di Indonesia tertinggal bila dibanding dengan negara ASEAN lainnya. Namun kekayaan sumber alam Indonesia yang tidak ada duanya di kawasan, merupakan local-advantage yang tetap menjadi daya tarik kuat, di samping jumlah penduduknya terbesar yang dapat menyediakan tenaga kerja murah.
            Sisa krisis ekonomi 1998 yang belum juga hilang dari bumi pertiwi, masih berdampak rendahnya pertumbuhan investasi baru (khususnya arus Foreign Direct Investment) atau semakin merosotnya kepercayaan dunia usaha, yang pada gilirannya menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Hal tersebut karena buruknya infrastruktur ekonomi, instabilitas makro-ekonomi, ketidakpastian hukum dan kebijakan, ekonomi biaya tinggi dan lain-lain. Pemerintah tidak bisa menunda lagi untuk segera berbenah diri, jika tidak ingin menjadi sekedar pelengkap di AEC 2015. Keberhasilan tersebut harus didukung oleh komponen-komponen lain di dalam negeri. Masyarakat bisnis Indonesia diharapkan mengikuti gerak dan irama kegiatan diplomasi dan memanfaatkan peluang yang sudah terbentuk ini. Diplomasi Indonesia tidak mungkin harus menunggu kesiapan di dalam negeri. Peluang yang sudah terbuka ini, kalau tidak segera dimanfaatkan, kita akan tertinggal, karena proses ini juga diikuti gerak negara lain dan hal itu terus bergulir. Kita harus segera berbenah diri untuk menyiapkan Sumber Daya Manusia Indonesia yang kompetitif dan berkulitas global. Menuju tahun 2015 tidaklah lama, Sudah siapkah kita akan Tantangan dan peluang bagi kalangan profesional muda kita/mahasiswa untuk tidak terbengong-bengong menyaksikan lalu-lalang tenaga asing di wilayah kita?.
            Tantangan Indonesia kedepan adalah mewujudkan perubahan yang berarti bagi kehidupan keseharian masyarakatnya. Semoga seluruh masyarakat Indonesia kita ini bisa membantu untuk mewujudkan kehidupan ekonomi dan sosial yang layak agar kita bisa segera mewujudkan masyarakat ekonomi ASEAN tahun 2015.

Kurang Sosialisasi, Indonesia Belum Siap Hadapi MEA
                Menyambut Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang tinggal beberapa bulan lagi, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan President University, Anak Agung Banyu Perwita mengatakan, Indonesia belum siap mengadapinya. Kurangnya sosialisasi sehingga banyak masyarakat yang tidak memahami apa yang dimaksud dengan MEA.
            Hal ini, kata dia, berdasarkan pengalaman bermitra dengan Kementerian Luar Negeri, masyarakat dan juga para mahasiswa tidak semuanya memahami. Ketertinggalan Indonesia tersebut merupakan pekerjaan rumah pemerintah. Ketidaksiapan akan sangat mengkhawatirkan karena masyarakat hanya menjadi penonton.
            “Pemerintah perlu menjalin kerja sama dengan kampus-kampus untuk mempersiapkan tenaga kerja yang siap menyambut MEA,” kata Banyu pada acara Campus Internasional Seminar di Kampus President University, Bekasi, Selasa (18/8).
            Hadir juga perwakilan Duta Besar Amerika Serikat Deborah C Lyann yang membawakan materi Beasiswa dan Bagaimana Belajar di AS.
            Dikatakan, kendala pola pikir juga menyebabkan Indonesia masih belum dapat bersaing di MEA. Masyarakat masih sering terjebak pada kehidupan lokal dan belum dapat keluar dari pemikiran lokal.
            Di sisi lain, pemahaman pemerintah, khususnya pemerintah daerah, juga diakui masih sangat terbatas sehingga tidak banyak yang bisa diharapkan untuk menjawab berbagai persoalan terkait MEA tersebut.
            Dia menjelaskan, seharusnya parpol dapat bekerja sama dengan pemerintah dan dunia usaha. Ketiganya memiliki fungsi yang sangat besar untuk kemajuan bangsa.
            Sementara itu, Perident University terus mendorong peningkatan kerja sama guna meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satunya semakin banyak mengirimkan mahasiswa dan dosen untuk studi lanjut di berbagai universitas ternama di AS.

          Mempersiapkan Langkah Strategis
          Pelaksanaan kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 sudah di depan mata. Indonesia harus mulai mempersiapkan diri jika tidak ingin menjadi sasaran masuknya  produk-produk negara anggota ASEAN. Indonesia harus banyak belajar dari pengalaman  pelaksanaan
            free trade agreement (FTA) dengan China, akibatnya China menguasai pasar komoditi Indonesia. Tidak ada pilihan lain selain menghadapi dengan percaya diri bahwa bangsa Indonesia mampu dan menjadi lebih baik perekonomiannya dalam keikutsertaan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 ini. Beberapa langkah strategis yang perlu dilaksanakan oleh pemerintah ialah dari sektor usaha perlu meningkatkan perlindungan terhadap konsumen, memberikan bantuan modal  bagi pelaku usaha mikro, kecil dan menengah, memperbaiki kualitas produk dalam negeri dan memberikan label SNI bagi produk dalam negeri.
            Dalam sektor tenaga kerja Indonesia perlu meningkatkan kualifikasi pekerja, meningkatkan mutu pendidikan serta pemerataannya dan memberikan kesempatan yang sama kepada masyarakat. Selain itu, perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat luas mengenai adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 sehingga mampu menumbuhkan rasa percaya diri dan kita akan mampu menghadapi berbagai macam tantangan dalam. Apabila kita mempunyai daya saing yang kuat, persiapan yang matang, sehingga produk-produk dalam negeri akan menjadi tuan rumah dinegeri sendiri dan kita mampu memanfaatkan kehadiran, untuk kepentingan bersama dan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Hambatan Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015
            Hambatan yang dihadapi oleh pekerja Indonesia untuk bekerja di negara ASEAN adalah mengenai bahasa dan perbedaan peraturan kerja, maka perlu ditingkatkan kemampuan  bahasa dan pemahaman aturan di negara-negara ASEAN.

Manfaat MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN)
            Kementerian Perdagangan memaparkan peluang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang akan dilakukan pada 2015. Pemaparan tersebut dilakukan didepan Asosiasi Bank Pembangunan Daerah (Asbanda).
            "MEA akan mendorong arus Investasi masuk ke dalam negeri yang menciptakan multiplier effect," ujar Direktorat fasilitas Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Junaedi, saat pemaparannya, Jakarta, Jumat (24/5/2013).
            Junaedi mengatakan, peluang lain, yakni pasar tunggal memudahkan pembentukan joint venture dengan perusahaan di kawasan ASEAN. Sehingga lebih memudahkan akses bahan baku yang belum dapat dipasok dari dalam negeri.
            "Pasar tunggal menciptakan pasar yang mencakup wilayah seluas 4,47 juta km persegi dengan potensi pasar lebih kurang sebesar 601 juta jiwa," tutur Junaedi.
            Selain itu, lanjut Junaedi, MEA memberi peluang meningkatkan kecepatan perpindahan manusia dan modal. Apalagi dapat meningkatkan bargaining power yang dimiliki oleh masyarakat dalam menentukan pilihannya di tengah banyaknya produk dan kemudaan yang ditawarkan."Di bidang teknologi, adanya peningkatan transfer teknologi dari negara maju ke negara berkembang,


DAFTAR PUSTAKA

http://nationalgeographic.co.id/berita/2014/12/pahami-masyarakat-ekonomi-asean-mea-2015
http://www.kompasiana.com/arioneuodia/peluang-dan-tantangan-dalam-persaingan-mea-2015_552c4ab36ea834d04c8b4580
http://www.beritasatu.com/asia/300123-kurang-sosialisasi-indonesia-belum-siap-hadapi-mea.html
http://yosiharaelmasnun.blogspot.co.id/2015/04/masyarakat-ekonomi-asean-mea.html
https://veronicadeboraa.wordpress.com/
https://marchilinoangga.wordpress.com/2014/11/14/peluang-dan-tantangan-ekonomi-islam-dalam-menghadapi-masyarakat-ekonomi-asean-mea-tahun-2015/
http://createdby-me.blogspot.co.id/2014/09/mea-masyarakat-ekonomi-asean-2015-dan.html